Pengaruh Pisah Ranjang pada Pernikahan, FAKTA!

Apa yang kamu lakukan ketika pasangan mengorok dan mengganggu tidur? Atau, ketika si Kecil merajuk minta temani tidur di kamarnya. "Pisah ranjang" mungkin menjadi satu cara yang bisa diambil. Tapi, apa pengaruh pisah ranjang pada pernikahan?

"Duh, paling sebel, deh, kalau suamiku tidur, pasti aja mengorok. Mana suara ngoroknya kenceng banget. Terpaksa aku suruh dia tidur di sofa aja, biar enggak menganggu tidurku," papar Sinta setengah merengut pada temannya.

Tina yang duduk di sebelahnya mengerinyitkan alisnya sambil berkata. "Eh, tapi jangan lama-lama Sin, bisa-bisa nanti suamimu lebih betah di sofa daripada di tempat tidur. Ha ha ha," kata Tina sambil tertawa panjang.

"Enggak jugalah. Buktinya kami tetap mesra, kok. Pisah ranjang, kan, bukan berarti kami sedang musuhan. Itu, kalau pas dia tidur aja, sebelumnya beda lagi, dong," tandas sinta sambil tersenyum penuh arti.

pengaruh pisah ranjang pada pernikahan
Image by liputan6.com
Memang betul apa yang dikatakan Sinta. "Pisah ranjang" tidak selalu berarti negatif bagi sebuah pernikahan. Jika seseorang tidak merasa nyaman tidur dengan pasangannya mendengkur dengan keras dan jadi sulit tidur, sehingga membuat mood tidak baik, maka tidak tidur di tempat tidur yang sama akan menjadi lebih baik. Jadi dilihat dulu konteks pisah ranjang yang seperti apa dulu.

Menurut penelitian yang dilakukan National Stop Snoring Week, 41% pria pendengkur secara tidak sadar terbukti mengganggu kenyamanan istirahat orang yang tidur di sebelahnya, yang tak lain istri.

Hasilnya, lebih dari 25% pasangan mengaku harus meninggalkan sang suami tidur sendiri dan beralih ke kamar lain agar bisa tidur nyenyak. Sebanyak 27% pasangan merasa kesal, 21% merasa kelelahan, dan 16% mengaku kurang tidur. Jadi, tak hanya suami yang "diusir" harus tidur di sofa. ternyata istri pun sanggup meninggalkan tempat tidur entah itu memilih tidur bersama anak, atau pindah ke kamar lain.
Dampak Positif

"Pisah ranjang" sementara ini pun diharapkan membuat pasangan yang memiliki masalah menjadi saling merindukan satu sama lain, karena biasanya tidur bersama. Bisa saja tidak bisa tidur bersama karena tidak nyaman dengan pasangannya, misal dalam hal kebiasaan tidur atau kesehatan.

Namun, meski boleh-boleh saja dilakukan oleh pasangan, asal keduanya di awal sudah sepekat bahwa 'perpisahan' ini hanya untuk sementara dengan tujuan menenangkan emosi. Jangan sampai melakukannya atas dasar emosi kemarahan terhadap pasangan tanpa ada keinginan memperbaiki masalah. Atau yang lebih parah lagi, masalahnya, masalah sudah terlalu rumit sehingga pasangan tidak mau tidur bersama lagi.

Seks Terganggu?

Tidak ada peraturan bagaimana seharusnya pasangan menjalin hubungan mesra. Tapi, tentu saja tidur bersama membuat hubungan menjadi lebih hangat. Karena bisa berkomunikasi sebelum tidur, meningkatkan gairah, sekaligus meningkatkan rasa nyaman.

Namun, apabila pasangan sedang bermasalah dan memerlukan waktu untuk menjauh sebentar dari pasangannya sehingga harus pisah ranjang pun tidak perlu khawatir, asal keduanya sepekat hal ini sementara dan untuk memperbaiki hubungan.

Lantas, bagaimana soal hubungan seksual pasangan? Yang jelas, meski pisah ranjang seperti yang dialami Sinta tadi, hubungan seksual sebaiknya tidak terganggu. Karena hubungan seperti itu bisa membuat kalian lebih bersemangat, karena saling rindu. Intinya bukan soal berapa kali dalam seminggu melakukan hubungan seksual, tapi lakukan ketika pasangan sama-sama menginginkannya, tanpa ada yang merasa terpaksa atau dipaksa.
...