Bemo, Nasibmu Kini...

Pekat asap knalpot seakan beradu dengan suara bising klakson. Siang itu, mentari tengah menonjolkan diri. Di Gang 2 Jalan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, terdengar teriakan para pendorong bemo kian memekikkan telinga. Bemo, sebuah angkutan kota yang naik daun saat 1962 kini tengah waspada, menunggu giliran untuk dieksekusi dari jalanan Ibu Kota.

Sedikitnya 20 buah bemo berjajar membentuk dua baris mengantri untuk dipenuhi oleh para penumpang dari Benhil hingga Pejompongan. Salah satu yang tengah menunggu antrean ialah Kodim. Pria berusia 55 tahun itu tengah melepas lelah di dalam bemo miliknya.

"Beginilah kalau siang. Cuaca panas bikin badan gerah. Maklumlah si kuda besi ini nggak ada pendinginnya seperti mobil pejabat yang terkadang dipakai dengan uang rakyat," ungkap Kondim, setengah menyindir.

Perkataan pria paruh baya itu memang tidak salah. Di siang hari bemo memang dirasa lebih menyengat. Kerangka yang terbuat dari besi, semakin menyerap panas matahari ditambah dengan atap yang rendah.

"Konsekuensinya. Namanya juga kerja kuat-kuatin, demi keluarga apapun saya lakukan. Biar dibilang panas atau hujan juga harus tetap jalanin, soalnya kalau enggak seperti itu ya nggak bisa makan," ucapnya, benar.

Kodim memang bukan orang baru di kalangan penarik bemo. Dirinya yang sudah bergelut sebagai sopir bemo sejak 45 tahun silam dianggap sebagai satu sesepuh di pangkalan.

Riwayatnya Kini Diambang Kepunahan

"Ha ha ha, karena sudah lama, makanya anak-anak manggil saya Abah. Dari pangkalan yang dulunya rimbun akan pepohonan, sampai ya sekarang ini. Gersang dan nggak teratur," kecewanya seraya mengingat.

Berbicara mengenai bemo, kendaraan roda tiga ini yang merupakan kendaraan asal Jepang keluaran pabrik Daihatsu tersebut merambah Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. Bisa dibilang, bemo merupakan darah daging bagi para "dorongan", bahkan juga tempat tinggal mereka.

Ternyata benar adanya. Bemo bukan hanya sekedar alat perantara pendorong bemo dalam mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Banyak dari para pendorong kendaraan bemo ini kini dijadikan sebagai tempat tinggal. Salah satunya adalah Kodim, sementara istri dan anaknya tinggal di Bandung.

Kodim memang sudah mendengar isu mengenai penarikan bemo dari jalanan Ibu Kota sejak lama. Meski demikian ia tak ambil pusing mengenai kisruh rencana tersebut. Menurutnya, ia tidak takut apabila bemo akan ditarik, karena itu pemerintah, jadi rakyat harus ikut kata pemerintah. Demi kebaikan bersama.

Sebagai sopir bemo memang tidak banyak para pendorong bemo harapkan dari pemerintah. Meskipun di Benhil hanya ada 90 jumlah bemo yang masih aktif, Kodim dan rekan lainnya mengimbau kepada pemerintah untuk tidak hanya melihat dari jumlah tersisa.

Karena baginya, pemerintah harus melihat lebih dalam, ada anak, istri, dan juga masyarakat yang masih tergantung dengan bemo ketika kemana-mana. Apabila pemerintah melakukan penghapusan, akan lebih baik pikirkan juga solusinya. Diganti atau diremajakan. Karena, makan sehari-hari hanya dari mobil tua berjiwa muda tersebut.
...