Serba-Serbi Transfusi Darah

"Setetes darah kamu sangat berharga menyelamatkan nyawa sesama." Istilah itu tentu sering kita dengar. Ya, tak sedikit orang yang mengalami masalah kesehatan sehingga membutuhkan "asupan" darah yang dalam bahasa medis disebut transfusi darah. Serperti apa ketentuannya?

Transfusi darah merupakan suatu upaya tindakan medis terhadap sesorang atau pasien yang membutuhkan banyak darah.

Menurut Dr. Silvia Dewi, sp.PD dari RS Hermina Bogor, secara definisi. transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau komponen darah dari seseorang ke orang lain. Transfusi dapat berupa darah secara keseluruhan (whole blood) atau sel darah (pack red cell), komponen darah berupa keping pembekuan darah (trombosit), darah putih (leukosit), plasma darah, cryopresipitat atau fresh frozen plasma.

Empat Kondisi

Transfusi darah dilakukan pada seseorang dengan berbagai kondisi seperti berikut ini:

1. Mengalami kecelakaan
Misalnya, korban kecelakaan lalu lintas yang sangat fatal mengalami pendarahan yang sangat banyak sehingga membutuhkan penanganan cepat dan transfusi darah sebagai upaya penyelamatan nyawanya.

2. Menjalani pembedahan atau operasi
Pasien yang menjalani operasi mungkin saja mengalami kehilangan banyak darah, sehingga membutuhkan upaya transfusi darah agar sel darah merah tidak menurun.

3. Perdarahan berat ketika melahirkan
Seorang ibu yang melahirkan didapati mengalami perdarahan berat (perdarahan postpartum) yang berisiko menimbulkan anemia atau kekurangan sel darah merah yang bisa berdampak fatal berupa kematian. Untuk mencegah hal itu, diperlukan transfusi darah.

4. Mengalami penyakit tertentu
Ada berbagai kondisi pasien dengan penyakit tertentu yang berisiko mengalami perdarahan. Di antaranya adalah:
  • Pasien dengan mag kronis dan berisiko perdarahan
  • Anemia hemolitik atau trombositopenia yang bisa mengakibatkan kerusakan sel darah dalam jumlah besar
  • Penyakit sumsum tulang yang menyebabkan produksi sel darah terganggu, misalnya anemia aplastik
  • Pasien hemofilia yang berisiko mengalami gangguan produksi beberapa komponen darah
  • Pasien thalamesia yang mengalami gangguan pada hemoglobin dalam sel darah merah. Pada pasien yang parah mungkin butuh transfusi darah
  • Pasien dengan kerusakan hati yang parah. Kondisi ini mungkin membutuhkan transfusi plasma darah atau transfusi albumin/protein darah
  • Pasien kanker berisiko mengalami penurunan produksi sel darah merah, sel darah putih dan trombosit. Di sisi lain, pengobatan kemoterapi juga dapat menurunkan produksi darah. Maka pasien kanker juga mungkin membutuhkan transfusi darah
Pemeriksaan Ketat

Di Indonesia, pengobatan aktivitas transfusi darah dilakukan oleh PMI (Palang Merah Indonesia). Lembaga inilah yang bertugas mengumpulkan atau menghimpun kantong-kantong darah dari para pendonor. Darah yang tersedia di bank darah dikumpulkan dari para pendonor sukarela. Selanjutnnya, stok darah ini didistribusikan ke pelayanan kesehatan atau rumah sakit yang membutuhkan pasokan darah.

Memang diakui, tak sedikit yang meragukan keamanan darah transfusi ini. Mengenai kekhawatiran ini, pihak PMI menyatakan bahwa darah transfusi di Indonesia relatif aman dan bebas dari segala macam penyakit berbahaya. Pasalnya, untuk menjamin keamanan, pemeriksaan yang ketat dilakukan terhadap setiap darah donor sehingga jarang sekali ditemui seseorang yang mendapatkan penyakit dari darah donor.

Perlu diketahui, sebelum donor darah dilakukan, calon pendonor wajib melakukan pemeriksaan kesehatan untuk mengetahui riwayat penyakit yang pernah diderita. Hanya calon yang lolos skrining ini yang dapat mendonorkan darahnya.


Kemudian, darah dari pendonor ini tidak serta merta dapat langsung didistribusikan ke rumah sakit atau diberikan kepada pasien yang membutuhkan darah. Akan tetapi, darah ini akan diperiksa lagi untuk mengetahui apakah mengandung penyakit berbahaya atau tidak. Upaya yang dilakukan adalah analisis pemeriksaan seriologi untuk menguji kelayakan darah sehingga bebas dari penyakit. Jika ditemukan suatu masalah maka darah tersebut akan dibuang.

Selanjutnya, darah yang lolos seleksi dipisahkan komponen darahnya, yaitu sel darah merah, sel darah putih, trombosit dan plasma. Kemudian, darah ini disimpan di bank darah atau dikirim untuk segera dapat digunakan.

Nah, darah yang tersimpan di bank darah tidak dapat disimpan dalam waktu lama. Karena itu, bank darah PMI sangat membutuhkan para pendonor sukarela guna mencukupi keperluan darah yang terus meningkat setiap hari.

Risiko Ringan Tranfusi

Berapa lama proses transfusi darah? umumnya berlangsung sekitar satu hingga dua jam tergantung komposisi darah yang terima dan beberapa banyak darah yang dibutuhkan.

Tentunya sebelum dilakukan transfusi, golongan darah dan stafus Rhesus (Rh) pendonor dan penerima darah akan dicocokkan terlebih dahulu. Ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kesalahan perbedaan atau ketidakcocokan golongan darah. Angka kejadian persoalan ini memang kecil, akan tetapi bila ini terjadi bisa berisiko menimbulkan reaksi.

Ya, saat menerima darah transfusi, sistem pertahanan tubuh akan bereaksi lantaran menilai darah yang masuk adalah "benda asing". Tubuh akan menolak darah yang masuk dan berusaha menghancurkannya.

Jadi, pasien tetap dapat mengalami risiko/reaksi ringan akibat transfusi darah meski telah diupayakan pencocokan golongan dalah dan dilakukan sesuai prosedur. Meski begitu, transfuis darah jarang menimbulkan komplikasi.

Berbagai reaksi tersebut di antaranya:
  • Demam
  • Kelebihan zat besi
  • Radang paru
  • Alergi
  • Grafy-versus-host-disease
Pentingnya Golongan Darah

Golongan darah yang sangat penting dalam transfusi darah adalah sistem ABO dan Rhesus. A, B, AB dan O adalah penggolongan darah dalam sistem ABO. Setiap tipe pada sistem ABO memiliki nilai positif dan negatif. Nilai ini dikenal dengan faktor Rhesus. Misalnya, jika kamu memiliki golongan A plus artinya kamu memiliki golongan darah A pada sistem ABO dan faktor Rhesus kamu adalah positif.

Syarat Pendonor Darah

Calon pendonor darah harus memenuhi kriteria untuk dapat mendonorkan darahnya, yaitu keadaan umum yang baik, usia 17-65 tahun, berat badan 50 Kg atau lebih, tidak demam, frekuensi dan irama denyut nadi normal, tekanan daah 50-100/90-180 mmHg, dan tidak ada lesi kulit berat.

Persyaratan yang lain adalah menjadi donor paling lama minimal 8 minggu yang lalu, tidak hamil, tidak menderita TBC aktif, tidak menderita asma bronkial simptomatik, pasca pembedahan (6 bulan pasca operasi besar, luka operasi telah sembuh pada operasi kecil, minamal 3 hari setelah ekstraksi gigi/ pembedahan mulut, tidak ada riwayat kejang, tidak ada riwayat perdarahan abnormal, tidak menderita penyakit infeksi yang menular melalui darah.

Calon donor darah harus mendapat imunisasi atau vaksinasi terlebih dahulu agar dapat diterima sebagai donor jika tidak ada gejala setelah tindakan tersebut. Semua calon donor wajib mendapat informed consent berserta penjelasan mengenai risiko transfusi.

Reaksi pada donor jarang terjadi. Reaksi yang umum terjadi adalah rasa lemas, nafas meningkat, sinkop, pucat, pusing, dan mual. Reaksi yang jarang terjadi adalah kejang, kehilangan kesadaran, atau berkemih dan juga masalah jantung.
...