Bekerja di Rumah Itu Indah Tapi Tak Selalu Mudah

Istilah WHAM (work-at-home-mom) kian populer akhir-akhir ini. Bekerja dari rumah menjadi impian wanita terutama para ibu yang memiliki anak yang masih belita dan perlu pengawasan yang lebih.

Minat bekerja di rumah umumnya dilandasi keinginan untuk memiliki waktu lebih fleksibel dan menjalani hidup lebih berkualitas. Apalagi saat ini, pilihan untuk bekerja lepas sangat beragam. Meski terdengar menyenangkan, praktiknya tak semudah yang dibayangkan. Kamu perlu mempertimbangkan masak-masak sebelum memutuskan 'pindah haluan'.

Perlu disadari, bekerja di rumah hanya merujuk pada tempat di mana kita bekerja. Apapun bidang pekerjaan yang kita tekuni menuntut sikap profesional. Ketika memutuskan untuk bekerja di rumah, kita biasanya hanya membayangkan hal yang mudah dan menyenangkan saja seperti memiliki keleluasan mengatur waktu, terbebas dari kemacetan jalan, bisa lebih dekat dengan tugas-tugas rumah tangga dan hal-hal menggoda lainnya.

Seringkali kita lupa bahwa kemandirian membutuhkan disiplin yang lebih tinggi dan tidak semua orang sanggup melakukannya. Selain pengalaman menyenangkan bekerja di rumah, banyak juga para ibu yang mengaku tidak sanggup bekerja di rumah dan memutuskan kembali menjadi orang kantoran. Nah, untuk lebih memantapkan keputusan kamu, 4 hal berikut perlu dipersiapkan.

Motivasi Kuat

Kemandirian adalah hal utama yang dibutuhkan bila kamu bekerja di rumah. Segala sesuatunya tergantung insiatif pribadi. Tak ada yang mengawasi atau mendikte kamu melakukan pekerjaan ini itu.

Bagi mereka yang terbiasa bekerja berdasarkan order, hal ini bisa menyulitkan. Harus ada motivasi yang kuat dari diri sendiri untuk menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan, mengalahkan rasa malas untuk menunda-nunda, membuat prioritas atau menghadapi berbagai godaan dalam bekerja. Termasuk mencari solusi atas permasalahn yang mungkin kamu temui dalam bekerja.
Dukungan Keluarga

Lingkungan adalah salah satu pendukung kesuksesan kerja. Sebelum memutuskan, kamu perlu memastikan bahwa lingkungan rumah (pasangan, anak atau keluarga) mendukung keputusan kamu. Ada baiknya dibuat kesepakatan-kesepakatan baru yang sesuai dengan peran baru kamu.

Artinya, meski secara teori kamu full-time di rumah, bukan berarti waktu kamu tersita untuk tugas domestik. Dengan keberadaan kamu di rumah, bisa saja diputuskan untuk meniadakan peran asisten rumah tangga tetap untuk menghemat pengeluaran, dan sebagai gantinya memperkerjakan asisten harian. Pembagian tugas dengan pasangan juga perlu dibicarakan.

Misalnya setelah kamu seharian bersama anak, malam adalah waktu suami bersama anak untuk membacakan dongeng atau menemani anak belajar.

Manajemen Waktu

Kesalahan umum yang biasa dilakukan oleh pekerja rumahan adalah merasa bahwa waktu tidak terbatas. Banyak 'pencuri waktu' yang datang tanpa disadari. Misal terlalu lama berkutat di depan televisi, keasyikan bersosial media atau bersosialisasi dengan tetangga, atau bermain-main dengan si kecil.

Meski bekerja di rumah, kamu perlu tegas membagi waktu. Salah satu cara dengan membiasakan bekerja pada waktu yang sama setiap harinya. Dengan begitu kamu memiliki disiplin untuk menyelesaikan terget pekerjaan. Kamu harus bisa memilah kapan waktu untuk bekerja, kapan untuk istirahat, kapan untuk bersama dengan anak.

Penggunaan waktu yang tidak efesien seringkali menjadi penyebab kita kerap merasa lelah. Bahkan tak jarang kamu merasa lebih lelah bekerja di rumah ketimbang ketika bekerja sebagai 'orang kantoran'.

Ruang Kerja Khusus

Sebisa mungkin, ciptakan ruang khusus untuk bekerja. Bisa sebuah kamar, atau sebuah sudut ruangan yang disepakati sebagai 'ruang bekerja'. Sehingga anak belajar memahami, bahwa meski ibu sedang di rumah, ketika ia berada di ruangan tersebut, ibu sedang bekerja dan sebisa mungkin tidak mengganggu.
...