Saturday, February 20, 2016

LIPI: Mahasiswa Teknik Lebih Rentan Terkena Radikalisasi

Ideologi radikal secara diam-diam banyak beredar di seluruh kampus di Indonesia. Mahasiswa teknik dan ilmu pengetahuan alam dikenal lebih rentan untuk disusupi ideologi ekstrimisme. Demikian disampaikan oleh peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Peneliti senior LIPI, Anas Saidi mengatakan, meski mahasiswa yang berlatar belakang jurusan ilmu sosial dan politik, serta humaniora dan filsafat lebih tahan terhadap ideologi radikal, namun mereka yang mempelajari ilmu perhitungan berat berisiko lebih rentan menjadi kader indoktrinasi ekstrimisme.
Seminar "Membedah Pola Gerakan Radikal Di Indonesia" yang diselenggarakan di kantor LIPI Jakarta. Sumber: Tribunnews

“Mereka lebih mudah disusupi karena mereka punya pola pikir bahwa pemahaman agama tidak perlu dibahas. Hal ini berkaitan dengan latar belakang keilmuan mereka yang mempengaruhi pola pikir,” kata Anas seperti dikutip oleh Jakarta Post.

Menurut Anas, kebanyakan mahasiswa di universitas seluruh Indonesia banyak dicecar dengan ideologi Islam radikal yang hanya didasarkan pada pemahaman satu belah pihak, sehingga membuat mereka tidak dapat memahami bahwa tafsir dalam ilmu Islam tidak hanya ada dalam satu versi saja. Akibatnya, mereka menjadi tidak toleran terhadap orang yang tidak sepaham dengannya.

Penyebaran ideologi garis keras di kampus Indonesia pun terbilang sangat sistematis. Pengkaderan dan aktivitas disulap ke dalam organisasi kampus, dan sering kali terkait dengan partai politik tertentu.

Tanpa adanya tindakan keras dari pemerintah ataupun ormas Islam moderat seperti NU dan Muhammadiyah, maka fenomena ini dapat menyebabkan konflik ideologi di masyarakat.

“Sekolah dan universitas harus membuat aturan yang melarang penggunaan ruang publik untuk menyebarkan ajaran religius yang kaku dan berat sebelah,” kata Anas.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : LIPI: Mahasiswa Teknik Lebih Rentan Terkena Radikalisasi