Waspada Virus Zika, Virus Penyusutan Otak

Virus kerusakan otak yang menyebar melalui nyamuk baru-baru ini merenggut korban ribuan bayi di Brasil. Virus yang diberi nama Zika ini kemungkinan akan menyebar ke seluruh negara di benua Amerika kecuali Kanada dan Chile. Demikian disampaikan oleh pihak World Health Organization, Senin (25/1).

Belum ada laporan di Amerika Serikat yang menyatakan adanya kasus penyebaran Zika, meski ada seorang wanita yang terjangkit virus tersebut di Brasil dan kemudian melahirkan bayi yang terkena kerusakan otak di Hawaii.

Kementerian Kesehatan Brasil mengungkapkan pada November silam bahwa virus Zika terkait dengan kerusakan janin yang dikenal dengan istilah microcephaly, dimana bayi yang dilahirkan akan memiliki kepala yang lebih kecil dari biasanya.

Bayi penderita virus Zika di Poco Fundo, Brasil. Sumber: New York Times
Brasil telah melaporkan sekitar 3.900 kasus dugaan microcephaly, dengan persentase peningkatan sebesar 3000% ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Angka ini setara dengan 1-2 persen dari setiap kelahiran di negara bagian Pernambuco yang menjadi daerah yang paling banyak terjangkit virus Zika.

“Kami tidak punya obat dan vaksinnya. Kasus ini menjadi semacam déjà vu karena keadaan ini mirip dengan saat kami diserang wabah Ebola,” ujar Trudie Lang, profesor kesehatan global di Universitas Oxford. “Sangat penting bagi kita untuk secepatnya mengembangkan sebuah vaksin.”

Wabah Zika menyerang masyarakat layaknya Ebola di Afrika Barat, dimana penyakit yang dulunya tidak dikenali sama sekali kini berpotensi mematikan secara global.

Investasi perusahaan farmasi kelas atas untuk mengembangkan vaksin penyakit tropis masih belum menunjukkan tanda-tanda menguntungkan secara komersial, sehingga membuat ahli kesehatan menyerukan sistem insentif baru untuk mencegah kasus Ebola terulang.

“Kita butuh semacam rencana yang akan membuat perusahaan (farmasi) merasakan solusi berkepanjangan dan tidak hanya mencoba meraih keuntungan dengan sekali percobaan, lagi dan lagi,” ujar Francis Collins, direktur Institut Kesehatan Nasional AS pekan lalu.


Institut Butantan yang bermarkas di Sao Paulo, Brasil kini memimpin riset untuk mengembangkan vaksin Zika. Pihak institut mengatakan mereka berencana mengembangkan sebuah vaksin “dalam waktu singkat” meskipun direkturnya mengakui butuh 3 hingga 5 tahun lamanya.
...